IMAM BASUNI NPM : 1202001 Pps STAIN Jusi Metro 2012

Selasa, 20 November 2012

KURIKULUM, SISTEM DAN METODE PENDIDIKAN KLASIK



BAB I
PENDAHULUAN

A.         Latar Belakang Masalah

Pendidikan Islam sesungguhnya telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah Islam yang telah dilakukan Nabi Muhammad saw. Berkaitan dengan itu pula pendidikan Islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan yang dilakukan secara terus meneruskan pascagenerasi nabi, sehingga dalam perjalanan selanjutnya pendidikan Islam terus mengalami perubahan baik dari segi kurikulum,sistem dan metode.

Secara eksplisit, pendidikan mempunyai nilai yang strategis dan urgen dalam pembentukan suatu bangsa. Untuk menjadikan pendidikan yang berarti harus menyediakan kurikulum,sistem dan metode pendidikan yang baik tentunya kepada peserta didik. Hari ini kurikulum,sistem dan metode pendidikan di Indonesia dapat kita katakan sudah berjalan dengan baik, dan langsung dikelola oleh departemen pendidikan. Sebagaimana halnya dengan faktor-faktor pendidikan lainnya,maka kurikulum,sistem dan metode pun memainkan peranan penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Kurikulum,sistem dan metode mengalami perkembangan mengikuti perkembangan kebudayaan dan peradaban masyarakat. Dalam perkembangannya, tentu saja kurikulum mengalami pembaruan dalam isinya, sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.
Munculnya pendidikan Islam bersamaan dengan lahirnya Islam itu sendiri. Pendidikan pada awalnya dilakukan dari rumah ke rumah, di masjid-masjid dan sebagainya. Ini dilakukan dengan peralatan yang sederhana sekali. Kurikulum pendidikan Islam klasik merupakan suatu sistem pendidikan klasik yang berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang ada pada saat ini. Kalau ditinjau dari aspek tujuan, guru, murid, kurikulum, metode, fasilitas, dan sarana prasarana, jelas terlihat perbedaannya. Sudah banyak terjadi perkembangan-perkembangan dalam dunia pendidikan Islam.
Istilah pendidikan Islam klasik dalam tulisan ini adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan individu, kelompok tertentu atau pemerintah/lembaga pemerintah, formal atau non-formal dalam periode tertentu pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam.
Kegiatan itu dilakukan di rumah-rumah, majlis,masjid/halaqah dengan jenjang pendidikan dasar (kuttab), menengah(masjid/masjid khan, zawiyah) sampai tingkat tinggi (madrasah/al- Jamiah).
Karena pendidikan mempunyai nilai yang strategis dan urgen dalam pembentukan suatu bangsa. Maka dalam kesempatan ini penulis akan membahas tentang Kurikulum, Sistem dan Metode Pendidikan Islam Klasik.

B.         Rumusan Masalah

            Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka yang menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini yaitu, sebagai berikut:
  1. Apakah lembaga pendidikan Islam klasik memiliki kurikulum?
  2. Bagaimana bentuk kurikulum pada lembaga pendidikan Islam klasik?
  3. Bagaimana sistem, dan metode pendidikan Islam?








BAB II
PEMBAHASAN



A.         Pengertian Kurikulum Pendidikan

Kurikulum berasal dari bahasa yunani dari kata ’curir’ artinya pelari,. Kata ’curere’ artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang ditempuh oleh seorang pelari. Ketika itu diartikan Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa/murid/peserta didik untuk mendapatkan ijazah.[1] Pada masa klasik pakar pendidikan islam menggunakan kata ’al-maddah’ untuk pengertian kurikulum , karena pada masa itu kurikulum lebih identik dengan serangkaian mata pelajaran yang harus diberikan pada murid dalam tingkat tertentu. [2]
Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari oleh siswa dalam suatu periode tertentu. Dalam arti yang lebih luas, kurikulum sebenarnya bukan hanya sekedar rencana pelajaran, tapi semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah.[3]
Dengan kata lain, kurikulum mencakup baik kegiatan yang dilakukan pada jam belajar maupun di luar jam belajar, sepanjang hal itu berlangsung di lembaga pendidikan. Karena itu ada istilah ekstra-kurikuler, yaitu berbagai kegiatan yang dilakukan di luar jam tatap muka di ruangan kelas. Akan tetapi, tentu saja kurikulum dalam pengertian seperti itu baru dikenal pada sistem pendidikan modern, baik sekolah maupun madrasah. Pada masa sebelumnya, meskipun sudah dikenal, muatan kurikulum tidak seketat pengertian tersebut.
Pada hakikatnya kurikulum pendidikan Islam klasik berbeda-beda menurut wilayah masing-masing. Tidak ada pembakuan kurikulum yang dilakukan oleh Negara. Perbedaan kurikulum antara tempat yang satu dengan tempat lainnya bukan didasarkan daerahnya akan tetapi perbedaan tersebut didasarkan kepada guru yang memberikannya. Di Mesir misalnya kurikulum dititik beratkan kepada fiqh, sedangkan di Madinah lebih menitik beratkan kepada kajian hadis. Meskipun perbedaan kurikulum berbeda dengan tempat yang satu dengan yang lainnya, akan tetapi disepakati bahwa kitab suci al-Qur’an dijadikan sebagai sumber pokok ilmu-ilmu agama dan umum. Pada awalnya kurikulum yang diajarkan berkisar pada belajar membaca al-Qur’an, menulis, keimanan, ibadah, akhlak, dasar-dasar ekonomi dan politik yang semuanya bersumber kepada al-Qur’an.[4]
Penentuan kurikulum adalah terletak pada ulama, kelompok orang-orang berpengetahuan dan diterima sebagai otoratif dalam soal agama dan hukum. Sebagai persiapan untuk belajar ilmu-ilmu agama dan fiqh, seseorang mempelajari bahasa Arab mencakup gramatika dan komposisi serta pengenalan dasar-dasar prosa dan puisi.
Pada perkembangan berikutnya kurikulum pendidikan Islam merujuk kepada al-Qur’an dan hadis. Secara umum materi yang diajarkan adalah ilmu naqliyah dan aqliyah. Maka kurikulum pendidikan Islam klasik cukup variatif berdasarkan jenjang pendidikannya. Berikut perkembangan kurikulum menurut jenjangnya:

  1. Kurikulum tingkat rendah

Kurikulum tingkat rendah meliputi al-Qur’an dan agama, membaca, menulis, sya’ir, dan sebagian prinsip-prinsip pokok agama dan ditambah juga dengan nahwu, cerita dan berenang. Untuk putra-putri raja dan penguasa ditegaskan pentingnya pelajaran khitabah (pidato), ilmu sejarah, cerita perang, cara-cara pergaulan, di samping ilmu-ilmu pokok seperti al-Qur’an, sya’ir dan fiqh
Penekanan kurikulum berbeda antara negara yang satu dengan yang lainnya. Di Andalusia misalnya, untuk tingkat rendah diajarkan al-Qur’an, dan dimasukkan materi lain seperti riwayat sya’ir-sya’ir, prosa, berhitung, dan pembelaan negara sehingga kemampuan anak-anak dalam tulis menulis dan khat sangat menonjol. Kemudian kemampuan menemukan (discovery ) serta kemampuan menghubungkan cabang-cabang ilmu dalam mengintegrasikan antara ilmu-ilmu naqli dan aqli lebih unggul  dibandingkan negeri Islam yang lain.

  1. Kurikulum tingkat atas
Kurikulum pendidikan tingkat atas meliputi ilmu fiqih, nahwu, ilmu kalam, aljabar dan ilmu hitung.[5] Namun sama halnya dengan tingkat rendah, kurikulum tingkat atas tidak sama antara negara yang satu dengan yang lainnya. Setiap negara mempunyai kurikulum yang khas dalam pendidikannya. Namun para pelajar tidak terikat untuk kurikulumnya, dan guru-gurunya juga tidak terikat dengan kurikulum yang ditentukan untuk dijadikan sumbur pegangan dalam pengajarannya.
Walaupun ilmu-ilmu naqliyah cukup menonjol, namun ilmu-ilmu aqliyah mempunyai peranan penting. Ini terlihat dalam hubungan yang kokoh antara ilmu-ilmu keagamaan dengan ilmu-ilmu bahasa, kebudayaan sampai kepada abad ke 2 hijriyah. Dan menurut Makdisi tentang kurikulum pendidikan, Makdisi menggambarkan secara garis besar tentang kurikulum itu sendiri yang diajarkan dimadrasah. Ilmu-ilmu agama jelas mendominasi madrasah, seperti juga lembaga-lembaga sebelumnya, masjid dan masjid-khan. Sejauh pengetahuan kita sekarang, tidak ada dokumen  tertulis yang berisi rincian kurikulum satu madrasah. Hal ini memang sulit untuk diharapkan mengingat sifat-sifat dasar madrasah. Pertama, tidak adanya ikatan organisatoris antara satu madrasah dengan yang lain. Setiap madrasah bebas menentukan materi dan sistem pengajarannya sendiri sesuai dengan keinginan pemberi wakaf ( waqif ) yang mendukung operasinya. Kedua, setiap syaikh atau mudarris bebas memilih bidang yang dia ajarkan; sekali lagi,dia hanya terikat dengan waqfiyyah dari lembaga tempatnya mengajar. Jadi apa yang dikatakan adalah suatu kesimpulan umum yang tingkat kebenarannya pasti akan sangat bervariasi dari satu kasus kekasus yang lain  yaitu bahwa kurikulum madrasah terdiri dari:[6]

  1. Ilmu-ilmu agama semacam: ilmu al-Qur’an, hadis, tafsir, fiqih, ushul fiqih, ilmu kalam, dan disiplin-disiplin lain yang tergolong dalam kelompok ini.

  1. Ilmu-ilmu sastra yang dibutuhkan untuk mendukung kajian ilmu-ilmu agama juga diajarkan di madrasah, tetapi bukan menjadi bagian utama dari kurikulum.


Jadi, sebagai kesimpulan umum, kurikulum madrasah terdiri dari ilmu-ilmu agama seperti: ilmu al-Qur’an, hadist, tafsir, ushul fiqh, ilmu kalam dan lain-lain yang tergolong kelompok ilmu-ilmu keagamaan Islam ini. Ilmu-ilmu sastra yang dibutuhkan untuk mendukung ilmu-ilmu agama juga diajarkan di madrasah, tetapi tidak menjadi bagian utama dari kurikulum. Deskripsi madrasah terdahulu menunjukkan bahwa ahli bahasa arab (nahwi) adalah bagian dari staf  di beberapa madrasah, namun posisinya jelas tidak sepenting posisi mudarris yang mengajar ilmu-ilmu agama. Ilmu-ilmu klasik belum diajarkan kecuali Filsafat, Kedokteran dan Astronomi, tetapi tidak begitu dominan, karena pelajaran ini memiliki lembaga pengajaran tersendiri (khusus). 

B.         Pengertian Sistem Pendidikan

Sistem pendidikan adalah suatu pola menyeluruh dalam lembaga-lembaga formal, agen-agen dan organisasi yang memindahkan pengetahuan dan warisan kebudayaan yang mempengaruhi pertumbuhan sosial, spiritual dan intelektual individu manusia. Sistem pendidikan Islam merupakan satu kesatuan yang terdiri dari beberapa unsur pendukung terlaksananya kegiatan pendidikan Islam, seperti lembaga pendidikan, kurikulum, media, guru, anak didik (peserta didik) dan metode pembelajaran yang digunakan. Masing-masing unsur tersebut saling terkait dan saling mendukung demi terlaksananya kegiatan sistem pendidikan Islam adalah :

a)      Lembaga Pendidikan

Pada masa klasik ada lembaga pendidikan Islam yang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan pendidikan Islam. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut ntara lain :
1.      Maktab atau Kuttab

Maktab, atau tempat-tempat untuk mengajar menulis, terdapat didunia Arab bahkan sebelum Islam. Maktab sesungguhnya merupakan sebuah tempat untuk belajar membaca maupun menulis, yang terletak di rumah guru di mana para murid berkumpul untuk menerima pelajaran..

2.      Masjid dan Jami’

Pada masa Islam klasik, mesjid mempunyai fungsi yang jauh lebih besar dan bervariasi dibanding fungsinya yang sekarang. Dulu, disamping sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi pusat kegiatan sosial dan politik umat Islam. Jami’ adalah mesjid yang digunakan sebagai tempat melaksanakan ibadah sholat Jum’at, sedangkan Mesjid adalah mesjid yang lebih kecil yang hanya digunakan sebagai tempat ibadah harian yang lain, kecuali sholat dan khutbah Jum’at. Mesjid Jami’ termasuk lembaga pendidikan tertua di dunia Islam yang digunakan sebagai tempat pengajaran humaniora dan ilmu-ilmu agama.

3.      Darul Hikmah Darul Ilmi

Darul al-Hikmah ini muncul pada waktu bercampurnya berbagai bangsa dan peradaban pada masa Daulah Abbasiyyah dan pada masa bangkitnya gerakan intelektual yang mendorong orang-orang Islam untuk memperoleh ilmu pengetahuan zaman kuno.

4.      Madrasah

Langkah perkembangan lembaga pendidikan tinggi Islam berikutnya di bawah patronase wazir  Nidham al-mulk, sekitar tahun 1064. Bangunan baru yang disebut madrasah ini mengambil masjid Khan sebagai model. Madrasah (dalam bentuk klasiknya) dapat disebut sebagai akademi (college) sebagaimana kita kenal sekarang. Madrasah mempunyai perpustakaan yang tergabung dalam bangunan yang sama. Walaupun perpustakaan telah terdapat di istana dan rumah-rumah bangsawan dan hartawan, perpustakaan sebagai bagian dari masjid-akademi adalah hal yang jarang. Madrasah merupakan satu jenis lain dari lembaga pendidikan Islam, dan mulai muncul pada akhir abad ke IV Hijriah[7] Madrasah merupakan hasil evolusi dari mesjid sebagai lembaga pendidikan dan Khan sebagai tempat tinggal mahasiswa.Madrasah menempati langkah ketiga dari satu garis perkembangan, dengan urutan : masjid, ke masjid-Khan, kemudian ke madrasah[8] madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam per excellence sampai pada priode modern dengan diperkenalkannya lembaga-lembaga pendidikan modern, seperti universitas.[9]

b)      Lembaga-lembaga Pendidikan lain, seperti : Dar al-Qur’an al Hadits, Daaru Kutab(perpustakaan) , Al- Bimaristan ( tempat mempelajari ilmu kedokteran secara praktis) dan lembaga pendidikan Sufi.

C.         Pengertian Metode Pendidikan

Metode pendidikan Islam merupakan unsur dari sistem pendidikan Islam, keberadaannya penting dan memang harus diperhatikan oleh setiap orang yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, baik itu guru maupun murid sebagai peserta didik. Secara sederhana kata metode dipahami sebagai suatu cara yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa metode pendidikan Islam adalah segala cara dan usaha yang sistematis dan pragmatis untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, dengan melalui berbagai aktivitas yang melibatkan guru sebagai pendidik dan murid sebagai anak didik. Dalam perjalanan sejarah pendidikan Islam, metode pembelajaran yang diterapkan telah mengalami berbagai perubahan dan pengembangan. Di antara perkembangan yang terjadi pada metode pendidikan Islam,adalah yang terjadi diterapkan pada masa Islam klasik. Ahli sejarah mencatat, setidaknya ada beberapa bentuk metode pendidikan yang diterapkan yaitu : halaqah, hafalan, munazarah, ,mudzakarah, Imla’ dan rihlah ilmiah.

  1. Halaqah

Bentuk yang paling sederhana pendidikan muslim pada masa awal adalah duduk melingkar. Ini merupakan pengalaman pendidikan yang khas dalam Islam dikenal dengan nama Halaqah, yang arti harfiahnya sebuah perkumpulan yang melingkar (pengkajian yang dilakukan dengan duduk melingkar). Dinamakan demikian, karena guru duduk di tengah-tengah sebuah mimbar atau bantal yang membelakangi tembok atau tiang, dan para pelajar duduk dengan membentuk setengah lingkaran di depan guru. Lingkaran tersebut dibentuk menurut tingkatnya, semakin tinggi tingkat seseorang pelajar,atau pelajar pengunjung, maka ia duduk paling dekat dengan gurunya. Dalam kegiatan berbentuk halaqah, murid yang lebih tinggi, pengetahuannya duduk dekat dengan Syeikh, sedangkan murid yang level pengetahuannya lebih rendah duduk sedikit lebih jauh dan mereka berusaha dengan keras untuk dapat mengubah posisi lebih dekat dengan Syeikhnya. Kegiatan perkuliahan di Halaqah, secara singkat berlangsung dalam rangkaian kegiatan berikut :Syeikh membuka perkuliahan dengan membaca basmallah, mengucap shalawat  dan salam bagi Rasulullah. Disertai dengan memberikan dorongan kepada murid supaya menuntut ilmu, bersifat rendah hati dalam menuntut ilmu, dan berusaha menjalani hidup yang baik serta berbudi luhur.
Kemudian dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang materi pelajaran sambil menghubungkannya dengan topik yang telah dibahas sebelumnya. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Syeikh  biasanya mendiktekan bahan pelajaran (al-Qur’an dan Hadits) kepada para murid, kemudian menjelaskannya serta menafsirkannya terutama pada bagian-bagian yang dipandang sukar dari hadits dan al-Qur’an. Sementara Syeikh memberikan penjelasan, para murid aktif menulis semua keterangan yang diberikan oleh Syeikh. Sebelum mengakhiri pembelajaran, Syeikh biasanya mengulang kembali apa yang telah dibacakan dan dijelaskan serta disesuaikan dengan catatan para murid dengan cara menyuruh seorang murid untuk membaca catatannya. Kemudian mengakhiri pelajaran dengan membaca do’a.
Kurikulum lingkaran studi(halaqah) sesuai dengan pengetahuan dan minat seorang Syekh, tergantung pada pengalamannya, dan biasa juga pada ijazah (pengakuan) dalam bidang keahliannya. Masa keterkaitan seorang murid dengan sebuah lingkaran studi (halaqah) tergantung kepada ketekunan dan target-targetnya sendiri. Ketika sudah tidak mencapai titik maksimal dalam belajar pada seorang guru, murid tersebut dapat beralih kepada guru lain. Sehingga seorang murid bisa saja menghabiskan masa hidupnya dalam perjalanan, beralih dari seoran guru (Syekh) ke guru(Syekh) lain yang terkenal.

  1. Hafalan

Pada masa Islam klasik hafalan memiliki peranan penting dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini selain dikarenakan daya hafal bangsa Arab yang kuat, juga dikarenakan memang hanya hafalanlah yang efektif digunakan pada masa itu. Ditambah lagi pada masa itu media simpan ilmu pengetahuan belum memadai jumlah dan penyediaannya. Kondisi ini mempengaruhi metode pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan pendidikan Islam pada masa itu. Dalam catatan sejarah ditemukan bahwa anak-anak mulai belajar dengan menghafal bebeapa surat dari al-Qur’an dan kewajiban agama seperti sembahyang dan puasa.
Hafalan merupakan cara yang harus ditempuh seseorang untuk dapat menguasai secara utuh berbagai tradisi yang diriwayatkan dari orang Arab terdahulu melintasi abad demi abad, termasuk dua naskah suci Islam al-Qur’an dan Sunnah, dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya.
Diya al-Din Ibn –‘Athir  mengemukakan pentingnya penghafalan dalam ingatan agar dapat menemukan kembali unsur-unsur yang penting pada waktu dibutuhkan. Pengingatan kembali hanya mungkin terjadi dengan melakukan pengulangan- pengulangan dan praktek-praktek tertentu untuk memastikan bahwa materi-materi yang sudah dihafalkan tetap lekat dalam ingatan dan dapat berfungsi pada waktu yang dibutuhkan.
Menghafal sangat penting dalam hal pembelajaran, seseorang dapat menghafal apabila ada pemahaman terhadap konteks yang dihafal. Untuk memudahkan cara menghafal, al-Khatib menganjurkan agar murid selalu duduk pada posisi yang dapat mendengar secara jelas terhadap apa yang diucapkan guru. Selain itu suasana haruslah tenang dan mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan guru.
Pentingnya metode hafalan ini juga dirasakan para ilmuan sebagaimana komentar yang mereka utarakan berikut ini :
1.          Qatada as-Sadusi mengatakan ia tidak pernah mendengar sesuatu tanpa menghafalnya.
2.          Al-Hasan Ibn Zin Nun al-Shaghri mengatakan jika kamu tidak mengulangi sesuatu lima puluh kali, ia tidak akan tersimpan dalam ingatan.
3.          Al-Ghazali merasakan betapa pentingnya menghafal ketika ia mengalami buku-bukunya dirampas perampok dalam perjalanan. Ia mengatakan ambillah semua hartaku, tapi jangan ambil buku-buku itu. Kejadian ini membuat beliau menghabiskan waktunya selama tiga tahun untuk menghafal. Melalui hafalannya itu ia tidak takut lagi untuk bepergian.
4.          Ibn al-‘Allaf mengatakan bahwa kertas (buku) adalah tempat yang tidak baik untuk menyimpan ilmu pengetahuan. Memang diakui betapa berharganya ilmu pengetahuan, tapi disisi lain dikatakan bahwa hapalan labih penting lagi.
5.          Abu Bakar Ibn al-Anbari mengatakan bahwa ia tidak pernah mengerti dari buku tapi selalu dari hafalan.
6.          Ibn at-Tabban adalah seorang yang buta huruf namun ia melakukan dakwahnya melalui hafalan.
7.          Ibn al-Munna pada usia 40 tahun cidera buta namun lancar  pendengarannya sehingga ia mengajar dari apa yang diperolehnya lewat hafalan.

  1. Mudzakarah

Dalam kajian ilmu-ilmu humaniora, istilah mudzakarah paling sering dalam arti diskusi ilmiah. Dalam suatu mudzakarah beberapa orang terlibat dalam suatu percakapan tentang suatu tema atau pelajaran tertentu ; mereka saling bertukar pendapat dan pengetahuan, agar setiap cendikia yang terlibat memperoleh manfaat, begitu pula orang yang hadir untuk mendengarkan saja.[10] Istilah mudzakarah tidak hanya digunakan dalam satu aspek saja, tetapi juga sering digunakan sebagai petunjuk percakapan yang dapat memberikan pertukaran ilmu pegetahuan (seperti seminar).Mudzakarah juga digunakan sebagai metode mempelajari dan mengahafal materi studi sastra khususnya ilmu qawa’id an-nahwu.

  1. Munazharah

Munazharah merupakan suatu metode pendidikan Islam pada masa klasik, yaitu dengan cara berdiskusi. Makdisi menjelaskan bahwa munazharah merupakan suatu cara untuk menambah ilmu pengetahuan dengan cara mengundang orang lain dan memperdebatkan masing-masing pendapat yang disertai dengan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam munazharah, kepasihan lidah berbicara dan memiliki ilmu yang luas sangat dihandalkan. Perdebatan(munazharah) juga merupakan alat untuk mencapai kemajuan ilmu pengetahuan
Beberapa contoh ulama yang dicatat sebagai ahli munazarah.Imam Syafi’i, yang terkenal sebagai seorang yang suka melakukan munazarah untuk mencari kebenaran tentang satu soal tertentu.
Ada fungsi dari munazarah ini yang sangat mendasar yaitu mengenai pemanfaatan orang yang memiliki keilmuan yang tinggi yang bisa dijadikan rujukan khususnya bidang keilmuan mulai dari zaman klasik sampai modern.

  1. Metode Dikte (Imla’)

Metode ini dilaksanakan oleh guru dengan cara memberikan pelajaran dari hafalan, atau dari catatan yang telah ditulisnya lebih dahulu untuk dibacakan kepada para murid. Pendiktean dilakukan dengan lambat, yaitu satu-satu alinea atau satu-satu hadits, disertai dengan menyebutkan sanadnya, dan para murid menuliskan apa yang di diktekan guru mereka. Setelah guru selesai mendiktekan materi pelajaran dan memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap materi tersebut serta murid telah selesai mencatatnya dengan baik. Guru seringkali membacakan apa-apa yang telah didiktekannya. Atau disuruhnya salah seorang murid untuk membacakannya, lalu diberikan pembetulan-pembetulan jika terdapat kesalahan-kesalahan atau kekurangan-kekurangan pada penulisan para murid.

  1. Rihlah Ilmiyah

Rihlah Ilmiyah digunakan untuk setiap perjalanan guna menuntut ilmu, mencari tempat belajar yang baik, mencari guru yang lebih bisa memimpin pelajaran dengan baik pula, atau juga perjalanan seseorang ilmuan ke berbagai tempat, apakah dia secara formal melakukan aktivitas akademis atau sebaliknya. Dengan demikian rihlah‘ilmiyah bisa saja mencakup sebuah perjalanan yang memang direncanakan untuk tujuan ilmiah (belajar, mengajar, diskusi, mencari kitab dan lain sebagainya), atau sekedar perjalanan biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang terlihat dalam kegiatan keilmuan.Selanjutnya Hasan Asari juga menjelaskan tentang praktek  Rihlah Ilmiyah dapat juga ditemukan dalam nas-nas dasar-dasar dasar agama Islam, baik dalam al-Qur’an maupun hadits. Abu Hamid al-Ghazali, misalnya, menganjurkan rihlah ilmiyah dan bahkan memandangnya sebagai pendukung penting yang dapat membantu keberhasilan seseorang dalam kegiatan menuntut ilmu pengetahuan. Begitu pula dengan Ibn Khaldun, dia melihat manfaat yang sangat besar dari praktek ini. Al-Khatib al-Baghdadi juga memandang rihlah ilmiyah memiliki relevansi yang sangat tinggi,khususnya dalam bidang hadis, sehingga ia menulis sebuah buku khusus membahas tema tersebut. Ibn ‘Abd al-Barr juga menyisipkan sebuah pembahasan mengenai praktek rihlah ilmiyah. Perkembangan rihlah ilmiyah ini juga ternyata tidak diketahui secara jelas kapan dimulainya, namun sejarah menunjukkan bahwasanya pada masa Rasulullah juga sudah ada karena beliau pernah mengutus sahabat Muaz Ibn Jabal ke negeri Yaman dengan tujuan sebagai guru. Rihlah Ilmiyah ini juga memiliki fungsi dalam peradaban intelektual Islam klasik.[11]




KESIMPULAN


Kurikulum pada zaman klasik secara garis besar sudah ada walau tidak ada bukti tertulis tentang kurikulum tersebut, nyatanya yang lebih mendominasi pada sebuah madrasah adalah kurikulum yang didalamnya adalah muatan tentang agama. Dan biasa yang menentukan kurikulum adalah orang-orang yang mempunyai otoritas atau penyusun perencanaan mata pelajaran pendidikan Islam klasik adalah ulama yang menguasai bidangnya masing-masing.

Pada perkembangan berikutnya kurikulum pendidikan Islam merujuk kepada al-Qur’an dan hadis. Secara umum materi yang diajarkan adalah ilmu naqliyah dan aqliyah. Maka kurikulum pendidikan Islam klasik cukup variatif berdasarkan jenjang pendidikannya. Berikut perkembangan kurikulum menurut jenjangnya: Kurikulum tingkat rendah dan kurikulum tingkat atas.

Sistem pendidikan adalah suatu pola menyeluruh dalam lembaga-lembaga formal, agen-agen dan organisasi yang memindahkan pengetahuan dan warisan kebudayaan yang mempengaruhi pertumbuhan sosial, spiritual dan intelektual individu manusia.
a)      Lembaga Pendidikan
1.      Maktab atau Kuttab
2.      Masjid dan Jami’
3.      Darul Hikmah Darul Ilmi
4.      Madrasah
b)      Lembaga-lembaga Pendidikan lain, seperti : Dar al-Qur’an al Hadits, Daaru Kutab(perpustakaan) , Al- Bimaristan ( tempat mempelajari ilmu kedokteran secara praktis) dan lembaga pendidikan Sufi.

Metode pendidikan Islam adalah segala cara dan usaha yang sistematis dan pragmatis untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, dengan melalui berbagai aktivitas yang melibatkan guru sebagai pendidik dan murid sebagai anak didik.
Ahli sejarah mencatat, setidaknya ada beberapa bentuk metode pendidikan yang diterapkan yaitu : halaqah, hafalan, munazarah, ,mudzakarah, Imla’ dan rihlah ilmiah.




KURIKULUM, SISTEM DAN METODE PENDIDIKAN KLASIK


MAKALAH INI DISAMPAIKAN DALAM SEMINAR MATA KULIAH
SEJARAH SOSIAL PEMIKIRAN DAN KELEMBAGAAN PENDIDIKAN ISLAM




 











Di susun oleh :

IMAM BASUNI
NPM : 1202001



Dosen Pengampu

Prof. Dr  Zaidi
Dr. Jamal Fahri, MA



PROGRAM PASCA SARJANA 
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
STAIN JURAI SIWO METRO
TAHUN 2012


KATA PENGANTAR



Segala puji milik Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.

Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang paling baik diantara jalan yang ada didunia ini untuk menuju kepada ridhotillah Tuhan semesta alam.

Dengan ma’unah (pertolongan) Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Penulis berharap agar pembaca dapat memberikan kritik dan saran serta masukan yang membangun guna perbaikan dikemudian hari.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya, dan penulis pada khususnya.


                                                                                    Metro, 16 Oktober  2012
                                                                                   

Penulis


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................... ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................   iii

BAB I  PENDAHULUAN................................................................................. 1
  1. Latar Belakang Masalah......................................................................... 1
  2. Rumusan Masalah..................................................................................   2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................   3
A. PENGERTIAN KURIKULUM PENDIDIKAN.....................................   3
1. Kurikulum tingkat rendah ...................................................................   4
2. Kurikulum tingkat atas........................................................................   4
B.  PENGERTIAN SISTEM PENDIDIKAN..............................................    6
....... a. Lembaga Pendidikan........................................................................    6
.......     1. Maktab dan Kuttab .....................................................................    7
.......     2. Masjid dan Jami’ .........................................................................    7
.......     3. Darul Hikmah Darul Ilmi...............................................................    7
.......     4. Madrasah.....................................................................................    7
....... b. Lembaga-lembaga pendidikan lain....................................................    8
C. PENGERTIAN METODE PENDIDIKAN.............................................    8
....... 1. Halaqoh...........................................................................................    9
....... 2. Hafalan............................................................................................   10
....... 3. Mudzakarah.....................................................................................   12
....... 4. Munazharah.....................................................................................   12
....... 5. Metode Dekte (imla’).......................................................................   13
....... 6. Rihlah Ilmiyah...................................................................................    13
BAB III KESIMPULAN...................................................................................    15
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................    16
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr H. Abuddin Nata MA, Sejarah Pendidikan Islam,(Cet1 Jakarta, UIN Jakarta Press Juli 2006
Prof. Dr H. Abuddin Nata MA,(Ed) Sejarah Pendidikan Islam pada periode klasik dan pertengahan,(Cet2 April 2010
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam (Bandung:Rosdakarya, 1992)
Ali Al-Jumbulati,Perbandingan Pendidikan Islam(Jakarta: Rineka Cipta,1994)
Hasan Asari,Menyingkap Zaman
George A. Makdisi,Cita Humanisme Islam Panorama
http://www.scribd.com/doc/16407165/Kurikulum-Pendidikan-Islam-Klasik



[1] Prof. Dr H. Abuddin Nata MA, Sejarah Pendidikan Islam,(Cet1 Jakarta, UIN Jakarta Press Juli 2006, hal 82
[2] Prof. Dr H. Abuddin Nata MA,(Ed) Sejarah Pendidikan Islam pada periode klasik dan pertengahan,(Cet2 April 2010, hal 115
[3] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam (Bandung:Rosdakarya, 1992), h. 53
[4] Ali Al-Jumbulati,Perbandingan Pendidikan Islam(Jakarta: Rineka Cipta,1994), h. 58.
[5] Ali Al-Jumbulati,Perbandingan Pendidikan....,h. 68.11
[6] Hasan Asari,Menyingkap Zaman,h. 109-110
[7] Ibid, h. 40
[8] Makdisi, dalam Hasan Asari,Op-cit , h.45
[9] Hasan Asari, Ibid , h. 51
[10] George A. Makdisi,Cita Humanisme Islam Panorama,….h. 315-316
[11] http://www.scribd.com/doc/16407165/Kurikulum-Pendidikan-Islam-Klasik, 02-10-2012, 14.30

Tidak ada komentar: